Selasa, 27 Januari 2009

Berkacalah Pada Sejarah

Siapa belajar sejarah, akan meningkat potensi kesadarannya. Demikian pesan Imam Al-Akbar, Imam Syafii dalam ‘Aja-ib Al-Atsar. Sejarah termasuk salah satu ilmu tertua. Kata sejarah sendiri berasal dari bahasa Arab syajaratun, yang berarti pohon. Pohon dalam konteks ini tertuang pada metodologi ilmu sejarah ketika menjabarkan atau merekamkan sebuah riwayat, yang lazim disebut historiografi. Historiografi, yang awalnya sebatas penulisan sejarah para raja, cakupannya kemudian berkembang luas hingga merambah pada tataran budaya, tradisi, kehidupan sosial, dan ekonomi suatu masyarakat. Inilah yang menyebabkan sejarah kerap disebut sebagai ibu ilmu-ilmu sosial.
Sejarah, kisah, maupun tarikh merupakan rekaman penting alam kesadaran umat manusia. Memahami sejarah berarti memahami keberadaan tempat diri kita tinggal, hidup, dan bergerak menuju. Sejarah maupun kisah bukanlah sebatas pelajaran menghapal ‘fakta mati’ dari peristiwa-peristiwa yang berlalu. Sejarah seringkali dimaknai sebatas kronik, yakni daftar peristiwa-peristiwa yang terjadi menurut deret hitung peristiwa itu terjadi. Yang luput dari perhatian kita adalah bahwa kajian sejarah sejatinya terkait erat dengan kejadian-kejadian manusia masa lalu yang berikutnya berimplikasi pada sejarah umat masa kini dalam membangun masa depan peradabannya.
Padahal, kita membutuhkan sejarah bukan untuk mengatakan kepada kita apa yang terjadi pada masa silam atau menjelaskan masa lalu, tapi membuat masa silam itu hidup sehingga ia bisa menjelaskan kepada kita dan membuat masa depan menjadi mungkin. Kajian sejarah memuat sejarah tentang apa yang telah diperbuat manusia tentang dirinya dalam konteks peradabannya. Ia adalah riwayat petualangan moral manusia, tentang keputusan baik dan buruk, dan tentang pertimbangan yang (semuanya) disibakkan dalam konsekuensi-konsekuensinya.
Al-Quran menjadikan kisah dan sejarah umat terdahulu sebagai salah satu muatan manhaji-nya. Kisah umat terdahulu diungkap Al-Quran sebagai dokumen sejarah paling autentik sehingga mampu menjadi fakta berbicara (shurah nathiqah) pada umat manusia di kemudian hari. Kisah kaum ‘Ad, Tsamud, Firaun, Abrahah, dan kisah lain dalam Al-Quran seyogianya bermakna pesan penting bagi umat masa kini sekaligus menjadi isyarat penegur hati bahwa pembangkangan pada perintah Allah selalu berakhir kehancuran dan kebinasaan. Allah SWT berfirman, “Kami menceritakan kepadamu kisah paling baik dengan mewahyukan Al-Quran kepadamu, dan sungguh kamu sebelum (Kami mewahyukan) termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yusuf [12]: 3).
Generasi umat manusia dari masa ke masa memang berubah-ubah, namun kesadaran dan watak kemanusiaan tidak jauh berbeda. Belajar kehidupan dari suatu periode dan generasi umat manusia berarti belajar tentang watak manusia itu sendiri. Firaun personal berikut kekuasaannya memang telah lama tiada, tapi gaya dan karakternya sangat mungkin akrab dengan para penguasa kita. Mungkin Qarun dan kekayaannya telah lama musnah, namun perilakunya masih lekat dengan konglomerat kita. Bisa jadi Hamman beserta keangkuhan ilmunya telah terkubur, tapi egoisme intelektualnya terwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks inilah kenapa dalam ilmu tafsir dikenal ungkapan, al-‘ibrah bi ‘umum al-lafzhi la bi khushushi as-sabab. Nilai sejarah terletak pada keumuman pesan dan bukan karena kekhususan sebab-sebab turunnya ayat.
Kisah generasi manusia masa lampau hanyalah simbol sekaligus saksi sejarah. Allah mengurai sejarah untuk diingat, bukan sebatas dokumen mati. Kisah orang-orang dulu ditulis agar menjadi pelajaran berharga bagi umat berikutnya. Jadilah pengibrah yang baik. Ciri peradaban gemilang adalah mampu melampaui kenyataan yang terjadi pada hari kemarin dan dijadikan pelajaran hari ini. Firman-Nya, “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Al-Quran) adalah penerang bagi seluruh umat manusia, petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran [3]: 137-138).
Dalam kaitannya dengan fungsi kisah dalam Al-Quran, Prof. Dr. Baligh Fathi Mahmud (2006), menyebut empat hikmah yang bisa kita petik dari penyampaian pesan Al-Quran melalui metode pengisahan. Pertama, sebagai nasihat dan ibrah bagi mereka yang mau berpikir. Kedua, meyakini kebenaran kisah-kisah yang disampaikan sehingga tidak memiliki konsekuensi fiktif. Ketiga, mengambil mana yang boleh dan terlarang. Keempat, sarana menempa hidayah di dunia dan meraih magfirah di akhirat.
Kisah dan sejarah adalah cermin. Cermin berfungsi memotret secara jujur watak manusia dan kehidupan, bagaimana memahamkan kehidupan berawal dan berakhir. Sebagai cermin, kisah dan sejarah selalu berbicara apa adanya mengenai siapapun. Bagi para penguasa, kisah tentang penguasa menjadi cermin fungsi dan amanah kekuasaan. Bagi para ulama, kisah menjadi cermin untuk tidak menyelewengkan amanah keilmuan. Bagi rakyat jelata, kisah menjadi cermin nikmatnya memiliki penguasa adil dan bijaksana.
Perlu kearifan dan kecerdasan spiritual untuk sepenuhnya sadar dan jujur menyelami kisah-kisah yang dialami bangsa-bangsa terdahulu agar menjadikan kita berpikir, berubah, dan berbenah diri. Kealpaan kita menangkap pesan dan misi sejarah mengakibatkan kehancuran berupa kiamat kecil bagi peradaban manusia. Allah berfirman, “Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka mau berpikir.” (QS. Al-A’raf [7]: 176).
Agaknya kita hanya bisa memetakan masa depan kita dengan jelas dan bijaksana hanya bila kita mengetahui masa lalu yang telah membawa kita kepada hari ini. Sayangnya mata pelajaran sejarah hari ini ada kecenderungan mulai dipandang remeh oleh kita sendiri, pemilik sejarah peradaban gemilang. Kebutaan dalam memandang dan memahami sejarah, jelas berpengaruh pada tumpulnya generasi muda kita dalam menangkap semangat zaman (spirit of the time). Tanpa pengajaran sejarah yang serius, jangan harap tunas-tunas muda umat yang lahir dan paham dengan karkater umat sekaligus sadar akan posisinya selaku pemilik masa depan.
Marilah kita beningkan pikiran untuk sama-sama becermin pada kisah dan fakta sejarah manusia masa lampau. Belajar perbaikan dari orang-orang pilihan Allah, dan belajar menghindari kejahatan dari mereka yang menjadi binasa akibat ulah onar mereka di muka bumi. Jika kita sebagai individu, masyarakat, dan bangsa ingin berbenah diri, sudah selayaknya kita mengusung kejujuran batiniah untuk memotret diri dengan cermin kisah dan sejarah. Bukankah sejak kecil, orang tua kita juga sering memaparkan ragam cerita, dongeng, dan hikayat sebelum tidur tiada lain sebagai pesan pengantar nilai bagi kita setelah kelak dewasa. Dongeng ternyata termasuk sarana efektif membekaskan jejak nilai dan akhlak mulia bagi seorang anak. Apabila cerita fiktif saja membekas dalam ingatan dan kesadaran moralitas kita, apalagi kisah-kisah dan sejarah nyata yang terekam utuh dalam Al-Quran maupun sirah Rasulullah saw?***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar